Popular Posts of The Week

March 04, 2018

Jakarta China Town Walking Tour (Part 3) : Gereja St. Maria de Fatima & Pantjoran Tea House

Tidak hanya mengunjungi Klenteng, saat mengikuti Jakarta China Town Walking Tour, gue dkk juga diajak mengunjungi Gereja Katolik St. Maria de Fatima yang lokasinya bersebelahan dengan Sekolah Ricci (kalau tidak salah namanya). 



Gereja Katolik St. Maria de Fatima ini didesign oleh seorang arsitektur thionghoa, jadi kalian jangan bingung jika melihat design Gereja ini yang sangat mirip dengan design bangunan di negara Cina. Design inilah yang akhirnya menjadi daya tarik Gereja Katolik St. Maria de Fatima. Di depan bangunan Gereja ini juga terdapat 2 patung Singa di bagian kanan dan kiri (sayangnya gue lupa foto, hehe). Patung Singa itu dipercayai oleh masyarakat thionghoa sebagai simbol penjaga sekaligus kemegahan arsitektur khas tionghoa. 

Tapi, bagi kalian yang tertarik menggunakan patung singa atau naga dan sejenisnya untuk ditempatkan di depan rumah kalian, sekalipun tujuannya hanya untuk memperindah, ada baiknya kalian memperhatikan hal berikut : 

Menurut kepercayaan masyarakat thionghoa, jika patung sejenis itu ditempatkan di depan bangunan usaha, maka akan menjadi sangat baik bagi peruntungan usaha tersebut, tapi jika ditempatkan di rumah tempat tinggal, maka pemilik tempat tinggal harus memiliki jiwa yang kuat, jika tidak maka justru bisa berakibat fatal, yaitu pemilik tempat tinggal bisa menjadi sakit karena 'kalah kuat' dengan patung tersebut. 

Tapi sekali lagi, ini merupakan kepercayaan masyarakat thionghoa yang masih kental dengan tradisi dll. Hehe.. Anyway, Gereja ini masih aktif mengadakan kegiatan ibadah yah sampai saat ini. 




Bagus kan design interiornya..

Baiklah.. Beralih ke lokasi berikutnya yaituuu.. PANTJORAN TEA HOUSE. Yippiee.. Nah, kalo PANTJORAN TEA HOUSE ini lokasinya berdekatan dengan Gang Gloria, pusatnya kuliner di Glodok :D


Sebenarnya gue dkk tidak masuk ke dalam PANTJORAN TEA HOUSE ini. Gue dkk lebih diperkenalkan mengenai sejarah Gedung ini. Jadi Gedung ini sudah ada sejak tahun 1928 dan disaat itu Gedung PANTJORAN TEA HOUSE ini masih merupakan sebuah apotek bernama Apotek Chung Hwa. 

Jika dilihat dari foto di atas, bentuknya cukup mirip dengan Potato Head Singapore yah, hehe.. Ok! Lanjut ke sejarahnya.. Karena bangunan Gedung ini sudah mengalami banyak kerusakan dan juga sebagian luas Gedung ini terpotong oleh pelebaran jalan, maka pada tahun 2015 lalu dilakukanlah pemugaran oleh Jakarta Endowment For Art and Heritage (JOTRC) dan setelah pemugaran berhasil dilakukan, maka berdirilah kedai teh bernama PANTJORAN TEA HOUSE di Gedung tersebut. 

Nah yang menarik adalah di depan pintu PANTJORAN TEA HOUSE ini terdapat meja panjang tempat meletakan 8 teko berisi teh lengkap dengan gelasnya. Teh tersebut bebas diminum oleh siapa saja yang sedang haus dan GRATIS. Kenapa demikian? Rupanya PANTJORAN TEA HOUSE ini terinspirasi dari kebaikan seorang Kapiten bernama Kapiten Gan Djie yang dulunya tinggal di sekitar sana. 

Kapiten Gan Djie selalu menyediakan 8 teko berisi teh di depan rumahnya, dimana teh tersebut dapat diminum oleh siapa saja yang sedang haus. Jumlah teko sebanyak 8 adalah karena angka 8 melambangkan keberuntungan. Kebaikan Kapiten Gan Djie ini akhirnya menjadi sebuah tradisi yang dikenal dengan nama PATEKOAN (PA : delapan - TEKOAN : teko) dan lokasi rumah Kapiten Gan Djie pun akhirnya dikenal dengan nama Daerah PATEKOAN. 

Nah, tradisi PATEKOAN inilah yang kemudian menginspirasi PANTJORAN TEA HOUSE untuk melakukan hal yang sama disaat ini :)


Sejarah yang menarik yah.. Sharing is caring.. Siapa sangka kebaikan Kapiten Gan Djie sangat dikenang dan menginspirasi sampai saat ini :) Well.. Dipostingan berikutnya, gue akan menceritakan pengalaman icip-icip kuliner saat melakukan Jakarta China Town Walking Tour ini yah guyss.. See yaa :)




--
Jakarta China Town Walking Tour Series 2018 :

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...